Banjir Apresiasi, Minim Evaluasi?

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Desember 2025 - 13:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung, AZMEDIA INDONESIA —Di tengah bertambahnya plakat dan seremoni penghargaan di Tulungagung, publik justru dihadapkan pada realita yang berjalan beriringan: persoalan hukum di layanan publik yang tak kunjung senyap. Fenomena ini memantik pertanyaan, terutama dari kalangan generasi muda, tentang seberapa jauh penghargaan benar-benar mencerminkan kualitas tata kelola pemerintahan.

Advokat dan Pimpinan Redaksi rorokembang.com, Adv. Eko Puguh Prasetijo, S.H., M.H., CPM., CPCLE., CPArb., CPL, menilai kondisi tersebut bukan kebetulan. Menurutnya, ketika penghargaan semakin ramai dirayakan sementara problem hukum terus muncul, maka yang patut diuji adalah sistem, bukan figur.

“Negara hukum tidak bekerja dengan kultus prestasi. Ia berdiri di atas mekanisme yang bisa diuji, diawasi, dan dikoreksi,” ujar Eko.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan, persoalan bukan pada penghargaan sebagai bentuk apresiasi. Masalah muncul ketika penghargaan dijadikan etalase pencitraan, bukan cermin evaluasi. Yang ditampilkan adalah hasil, sementara proses dan celah pengawasan kerap luput dari perhatian.

Baca Juga :  Jumlah APK yang Langgar Aturan Capai Empat Digit

Dalam praktik layanan publik, Eko menilai perkara hukum sering kali bukan kecelakaan tunggal, melainkan akumulasi pengawasan yang terlambat dan sistem pengendalian yang longgar. Kondisi ini membuat koreksi baru dilakukan setelah masalah mencuat ke ruang publik.

Bagi Gen Z dan milenial Tulungagung, logika tersebut justru sederhana. Jika sistem berjalan baik, kesalahan seharusnya terdeteksi sejak awal. Jika pengawasan efektif, problem tidak perlu menunggu viral untuk ditangani.

Dari perspektif hukum administrasi negara, situasi ini menyentuh Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Akuntabilitas dipertanyakan ketika tanggung jawab kabur, keterbukaan diuji saat publik lebih cepat mengetahui penghargaan daripada temuan masalah, dan kepastian hukum melemah ketika sanksi administratif tertinggal dari proses pidana.

Baca Juga :  Tiket Kereta Mudik H-3 Lebaran Bisa Dipesan Hari Ini, Simak Lagi Jadwal dan Ketentuannya

“Semakin tinggi klaim prestasi, semakin berat beban pembuktiannya. Penghargaan bukan tameng hukum, bukan penunda audit, dan bukan penghapus tanggung jawab,” tegas Eko.

Ia menekankan bahwa sorotan ini bukan serangan personal. Tidak ada nama yang ditunjuk karena yang diuji adalah cara sistem bekerja. Menurutnya, negara hukum justru lebih terancam oleh pujian yang membius daripada kritik yang keras namun jujur.

Sebagai langkah korektif, Eko mendorong audit mendalam, transparansi sistemik, penerapan sanksi administratif secara paralel, serta pengawasan preventif sejak awal.

Plakat boleh terus bertambah. Namun kepercayaan publik tidak otomatis ikut naik. Ia hanya bisa dijaga dengan keberanian membuka diri, menerima koreksi, dan menegakkan hukum tanpa kompromi.

“Generasi muda sudah bertanya, publik sudah melihat. Kini saatnya sistem berhenti menikmati pujian dan mulai berani diuji,” pungkasnya.

Penulis : M Habibul Ihsan

Editor : Redaksi

Sumber Berita: RoroKembang.com

Follow WhatsApp Channel dev.aztv.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB