AZMEDIA — Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) tidak lagi terbatas pada urusan teknis dan produktivitas. Hasil riset terbaru Kaspersky menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia mulai menjadikan AI sebagai tempat berbagi perasaan ketika menghadapi tekanan emosional.
Dalam survei global yang melibatkan ribuan responden dari berbagai negara, Indonesia tercatat memiliki tingkat penggunaan AI sebagai pendamping emosional yang relatif tinggi. Sekitar tiga dari sepuluh responden di Indonesia mengaku mempertimbangkan berbicara dengan AI saat merasa sedih atau tertekan.
Secara rinci, Kaspersky mencatat sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia memilih berinteraksi dengan teknologi tersebut dalam kondisi emosional. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 29 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan kelompok usia, tren ini paling banyak ditemukan pada generasi muda. Generasi Z dan milenial disebut sebagai kelompok yang paling terbuka menggunakan AI untuk kebutuhan emosional, seiring dengan kebiasaan mereka yang sudah akrab dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Kaspersky menyebutkan bahwa sekitar 35 persen responden dari kalangan Gen Z dan milenial menyatakan tertarik memanfaatkan dukungan berbasis AI. Sebaliknya, minat tersebut cenderung menurun pada kelompok usia yang lebih tua. Dari hasil survei, hanya sekitar 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan AI sebagai tempat mencurahkan perasaan ketika sedang kesal.
Risiko Curhat ke AI
Kemampuan AI dalam memberikan respons yang personal kerap membuat teknologi ini terasa seperti teman dekat. Jawaban yang terstruktur, kalimat empatik, hingga saran yang terdengar meyakinkan sering kali menimbulkan kesan bahwa AI mampu memahami kondisi emosional penggunanya.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa interaksi semacam ini tetap memiliki risiko. Sebagian besar chatbot dikembangkan oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan tersendiri dalam mengumpulkan dan memproses data pengguna. Artinya, informasi yang dibagikan dalam percakapan berpotensi disimpan dan dianalisis lebih lanjut.
Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, Vladislav Tushkanov, menekankan bahwa sistem AI mempelajari pola jawaban dari kumpulan data yang sebagian besar bersumber dari internet. Kondisi ini membuat AI berpotensi mengulang bias atau kesalahan yang terdapat dalam data pelatihan.
Ia menyarankan agar pengguna tetap bersikap kritis terhadap saran yang diberikan AI dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan, terutama yang bersifat sensitif.
Tips Aman Berinteraksi dengan AI
Kaspersky juga membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga privasi saat berinteraksi dengan AI. Pertama, pengguna disarankan untuk membaca dan memahami kebijakan privasi dari layanan AI yang digunakan sebelum memulai percakapan.
Beberapa penyedia AI, menurut Kaspersky, dapat memanfaatkan percakapan emosional untuk menarik kesimpulan tentang karakter atau kebiasaan pengguna. Informasi tersebut berpotensi digunakan untuk kepentingan iklan bertarget atau bahkan dibagikan kepada pihak ketiga.
Langkah berikutnya adalah menghindari membagikan data pribadi yang bersifat sensitif, seperti identitas, informasi keuangan, maupun detail pribadi lainnya. Selain itu, pengguna disarankan memilih layanan AI dari perusahaan yang memiliki reputasi baik dalam menjaga keamanan dan privasi data.
Penggunaan chatbot anonim atau layanan yang tidak jelas latar belakangnya sebaiknya dihindari, mengingat risiko penyalahgunaan data yang lebih besar.
Fenomena meningkatnya penggunaan AI sebagai pendamping emosional menunjukkan perubahan pola interaksi manusia dengan teknologi. Meski menawarkan kemudahan dan rasa ditemani, para pakar menegaskan bahwa AI tetap tidak dapat menggantikan peran dukungan emosional dari sesama manusia, terutama dalam menjaga kesehatan mental jangka panjang.













