Konsisten Kelola Sampah, Kampung di Surabaya Tembus ProKlim Lestari Tingkat Nasional

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AZMEDIA — Ketekunan warga RW 08 Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya, dalam merawat lingkungan akhirnya berbuah manis. Melalui gerakan Bank Sampah Rukmi, kawasan ini meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori Lestari tingkat nasional pada Desember 2025—sebuah pengakuan atas kerja panjang yang dijalankan dengan konsisten, bukan gerakan musiman.

Penggerak ProKlim setempat menjelaskan, kekuatan utama RW 08 terletak pada keberlanjutan program yang sudah berjalan sejak 2017. Meski lingkupnya hanya satu RW, aktivitas warga dinilai paling stabil dan aktif dalam pengelolaan sampah serta kegiatan lingkungan lainnya, sehingga menjadi pembeda dibanding wilayah lain.

“Penilaian ProKlim menekankan program yang berjalan lama dan berkelanjutan. Kami mulai 2017 dan terus bergerak. Kegiatan ini juga didukung kolaborasi banyak pihak, dari kelompok pendidikan usia dini, PKK, karang taruna, sampai pengurus RT/RW,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

banner 480x600

SCROLL TO RESUME CONTENT

Naik Kelas dari “Utama” ke “Lestari”

Sebelum meraih predikat Lestari, RW 08 Gunung Anyar Tambak lebih dulu mendapatkan status ProKlim Utama pada 2022. Setelah itu, warga tidak berhenti pada pencapaian. Mereka memperluas dampak dengan membina kampung-kampung lain di Surabaya. Hasilnya, sejumlah wilayah binaan berhasil naik kelas dan banyak yang menembus kategori Utama—membuktikan bahwa pengetahuan dan praktik baik bisa ditularkan, bukan disimpan sendiri.

Baca Juga :  3 Pasangan Bukan Suami Istri di Tulungagung Digrebek Satpol PP

Inovasi Sampah yang Dibuat Sederhana, Tapi Berdampak

Bank Sampah Rukmi tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengumpulkan sampah anorganik. Warga mengembangkan berbagai kegiatan pengolahan dan edukasi, mulai dari pemilahan yang lebih rapi, program sedekah sampah, hingga memanfaatkan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna seperti lilin. Inovasi-inovasi ini memperlihatkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal; yang terpenting adalah sistemnya berjalan dan kebiasaan warganya terbentuk.

Ketahanan Pangan Ikut Dikuatkan

Menariknya, gerakan lingkungan di RW 08 juga menyentuh aspek ekonomi keluarga melalui ketahanan pangan. Lahan kosong yang sebelumnya tidak produktif mulai dimanfaatkan menjadi kolam ikan dan kebun warga. Hasilnya bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga bisa memberi tambahan pemasukan ketika panen melimpah—seperti saat warga sempat menjual hasil kebun dan memperoleh hasil yang cukup baik.

Baca Juga :  Waduh! Pemerintah Gunakan Notifikasi untuk Mata-Matai Pengguna Google dan Apple

Target 2026: Kampung Wisata Edukasi dan TPS 3R

Memasuki 2026, warga menargetkan RW 08 berkembang menjadi Kampung Wisata Edukasi—tempat belajar praktik baik pengelolaan lingkungan, sekaligus ruang kunjungan bagi masyarakat yang ingin meniru model yang sama. Selain itu, mereka juga berharap dukungan untuk mewujudkan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) agar pengolahan sampah semakin kuat, volume sampah ke TPA menurun, dan peluang kerja baru bisa tercipta di lingkungan setempat.

Harapan itu bukan sekadar rencana. Jika TPS 3R dapat direalisasikan, RW 08 berpeluang memperluas dampak: mengurangi beban sampah kota, memperkuat ekonomi warga, serta memperlebar jangkauan edukasi lingkungan bagi masyarakat umum.

Kisah Bank Sampah Rukmi menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari satu RW, gerakan warga ini mampu menembus panggung nasional—membuktikan bahwa ketika komunitas kompak, lingkungan terjaga, dan manfaatnya kembali ke masyarakat.

Follow WhatsApp Channel dev.aztv.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal
Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan
Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026
Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung
Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik
Ekonomi Mikro Tetap Berputar: Jasa Permak Kenayan Tulungagung Masih Ramai
Rofian: Dari Penjual Jamu Keliling Menjadi Pengacara, Mengangkat Derajat Keluarga
Asrorul Mais: Dari Keterbatasan Menuju Wakil Rektor, Menggerakkan Pendidikan Inklusi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 17:16 WIB

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:34 WIB

Merajut Harapan dari Balik Jeruji: Ketika Warga Binaan Menyiapkan Masa Depan

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:59 WIB

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:17 WIB

Industri Kosmetik Berstandar Global Tumbuh dari Desa Rejotangan Tulungagung

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:33 WIB

Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Ngasem Kediri: Pendidikan Hukum sebagai Proyek Kesadaran Publik

Berita Terbaru

Bisnis

33 Coffee and Go Tumbuh dari Ketekunan Usaha Lokal

Rabu, 28 Jan 2026 - 17:16 WIB

News Update

Menuju Subsidi Tepat Sasaran: Penyesuaian Kuota BBM Tahun 2026

Rabu, 28 Jan 2026 - 15:59 WIB