AZMEDIA— Kisah Asrorul Mais menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal gelar, tetapi juga tentang membuka akses dan mengubah cara pandang. Terlahir tanpa kedua kaki pada 29 Agustus 1983 di Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Mais tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak awal, ia memilih satu hal yang konsisten: tidak menjadikan kondisi fisik sebagai alasan berhenti belajar.
Mais menapaki pendidikan dari sekolah khusus hingga sekolah umum, dengan prestasi akademik yang menonjol. Di balik pencapaiannya, ada kerja keluarga yang sering luput disorot: orangtua tidak hanya memberi semangat, tetapi juga menyiapkan dukungan nyata agar sekolah ramah bagi mobilitasnya. Prinsip itu sederhana namun penting—aksesibilitas bukan fasilitas mewah, melainkan prasyarat agar kesempatan benar-benar setara.
Setelah lulus SMA, Mais kuliah di Universitas Jember jurusan Teknik Elektro. Di masa ini, ia mulai aktif dalam gerakan disabilitas dan membangun kemandirian ekonomi lewat usaha kecil. Pengalaman mengajar kemudian membawanya pada titik balik: ia memilih menekuni Pendidikan Luar Biasa dan melanjutkan studi hingga magister, serta meneruskan pendidikan doktoral di bidang pendidikan inklusi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan akademik itu mengantarkannya menjadi dosen dan kemudian dipercaya memegang jabatan struktural hingga Wakil Rektor di kampusnya. Namun, yang membuat kisah Mais relevan dan bermanfaat adalah arah perjuangannya: ia mendorong inklusi dari dalam sistem—membangun layanan disabilitas, memperkuat akses kampus, dan menyiapkan pelatihan agar seluruh elemen kampus memahami disabilitas secara bermartabat, bukan dengan belas kasihan.
Mais membawa pesan yang tegas: kesetaraan bukan perlakuan khusus, melainkan kesempatan yang sama dengan dukungan yang tepat. Dari kisahnya, ada pelajaran praktis bagi banyak pihak—keluarga, sekolah, kampus, dan pemerintah—bahwa keberhasilan penyandang disabilitas bukan semata soal “ketangguhan pribadi”, tetapi juga soal lingkungan yang mau berbenah.
Di tengah tantangan akses pendidikan yang masih terjadi, perjalanan Asrorul Mais memberi inspirasi yang konkret: ketika pendidikan diperlakukan sebagai investasi, bukan beban, maka keterbatasan dapat berubah menjadi jalan untuk melahirkan perubahan—bagi diri sendiri dan bagi banyak orang lain.













